ALTERNATIF DAMAI LEWAT DEAL POLITIK DAN PRODUK HUKUM (2-Habis)

Setelah seteguk kopi melewati kerongkongan dan segumpal asap rokok meracuni paru-paru barulah saya lanjutkan. Jadi, bagaimanakah seharusnya? Hukum adalah suatu keharusan bagi sebuah kelompok dari kelompok terkecil sampai kelompok besar (NEGARA). Politik juga sebuah keharusan. POLITIKLAH YANG MENCIPTAKAN BIROKRASI pada satu kelompok sehingga tercipta suatu tatanan/struktur sebuah kepemimpian. Satu kelompok akan memilih satu diantara kelompoknya yang akan didudukkan sebagai ketua.

Dalam memilih ketua inilah terjadi suatu persaingan dalam satu kelompok itu, siapakah yang pantas untuk memimpin kelompok? Ketika sang pemimpin sudah terpilih maka dialah yang punya tugas bagainama mengatur kelompoknya ini untuk sampai pada tempat tujuan. Maka dibuatlah berbagai macam aturan agar kelompok ini tetap solid sebagai sebuah kelompok, tidak terancam oleh kelompok lain, yang tidak ini, tidak itu.....

Intinya sebuah kelompok yang menjalani hidup dalam damai. Jadi, politik dan hukum adalah laki perempuan yang bisa melahirkan anak. Anak yang bagaimanakah yang di inginkan oleh orang tua? Pertanyaannya akan sama : deal yang bagaimakah yangh dilakukan pakar hukum dan politikus untuk masyarakatnya ? Inilah tugas dari masyrakat sekarang untuk bisa benar benar memilih wakilnya.

Dalam kurun waktu 63 tahun, kita benar benar tidak pernah tepat memilih dan mendudukkan seseorang sebagai wakil kita baik dalam birokrasi tata pemerintah daerah ataupun birokrasi tata pemerintah pusat. Sejarah telah membuktikan itu. Catatan yang tidak bisa dibantah, bahwa Republik ini tidak pernah sungguh-sungguh menjadikan rakyatnya merasa menjadi masyarakat yang adil dan makmur, seperti yang selalu digembor-gemborkan menuju masyarakat indonesia yang adil dan makmur. Slogan sebuah mimpi, mimpi indah setengah abad lebih. Maukah kita akan bermimpi terus? Bagaimanakah alternatifnya? Kolaborasi. Itu tawarannya. Kolaborasi intelektual dan spritualis yang universal yang harus dimiliki seorang calon pemimpin plus. Republik ini sudah terlalu parah sakitnya. Mari kita coba.

3 komentar:

wendra wijaya mengatakan...

Adakah model pemimpin seperti itu saat ini?

Bagaimana cara meyakinkan diri bahwa si "dia" adalah pemimpin yang benar. Sementara di sisi lain, kepercayaan masyarakat kepada pemimpinnya mulai memudar.

boy mengatakan...

mungkin pemimpin kita lagi sakit gigi kebanyakan makan permen.
makanya segelas kopi panas dan sebatang rokok lucky strike, cukup untuk berpikir lebih banyak untuk jadi pemimpin.
ah..ngelantur...di leneng...
susah sukses...he..he..

boy mengatakan...

yah..namanya juga di leneng..
sing keto bli..?